“Esok Tanpa Ibu”, Kolaborasi Tiga Negara Angkat Drama Keluarga Bernuansa Fiksi Ilmiah

Film “Esok Tanpa Ibu” garapan BASE–Beacon, kolaborasi Indonesia–Singapura–Malaysia. Sci-fi drama keluarga ini digarap sejak 2020; fokus pada emosi universal. Tayang di bioskop 22 Januari 2026.

Januari 19, 2026 - 21:30
“Esok Tanpa Ibu”, Kolaborasi Tiga Negara Angkat Drama Keluarga Bernuansa Fiksi Ilmiah

JAKARTA Film “Esok Tanpa Ibu” produksi BASE Entertainment dan Beacon Film yang dikembangkan sejak 2020 dan menggabungkan drama keluarga dengan pendekatan fiksi ilmiah, menjadi proyek kolaborasi lintas negara yang melibatkan sineas dari Indonesia, Singapura, dan Malaysia.

Produser Shanty Harmayn mengatakan kolaborasi tersebut tidak hanya terjadi antarrumah produksi di Indonesia, tetapi juga melibatkan mitra dari Singapura melalui Refinery Media, serta sutradara asal Malaysia, Ho Wi-ding. Kerja sama ini mencakup pengembangan naskah hingga proses produksi.

“Film ini sejak awal kami rancang sebagai kerja bersama. Dari pengembangan naskah sampai produksi, banyak pihak dan negara yang terlibat,” ujar Shanty dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (19/1/2026).

Pengembangan cerita “Esok Tanpa Ibu” dimulai melalui program Wahana Kreator pada 2020. Proses tersebut dilakukan untuk menggarap tema keluarga dan teknologi yang dinilai kompleks dan membutuhkan pendalaman.

Kolaborasi lintas negara itu turut menghadirkan tantangan perbedaan bahasa di lokasi syuting. Namun, sutradara Ho Wi-ding menilai hal tersebut tidak menjadi hambatan utama dalam proses penyutradaraan.

Menurut Ho Wi-ding, film bekerja melalui emosi yang bersifat universal, sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada bahasa dialog. Ia memilih memusatkan perhatian pada ekspresi dan emosi aktor.

“Bagi saya, ketika emosi itu benar, bahasa tidak lagi menjadi masalah. Film adalah medium universal,” kata Ho Wi-ding.

Ia menekankan pentingnya proses casting yang tepat sebagai fondasi utama film. Dengan pemeran yang sesuai, ia merasa dapat mempercayakan eksplorasi emosi kepada para aktor, meski terdapat perbedaan bahasa di antara tim.

“Jika Anda menemukan pemeran yang tepat, Anda tinggal mempercayai mereka. Biarkan mereka merasakan adegannya dan menjalankan dialognya sendiri,” ujarnya.

Aktor Ringgo Agus Rahman yang berperan sebagai Bapak mengatakan pendekatan tersebut membuat proses syuting lebih jujur secara emosional.

Ia menyebut sutradara kerap meminta pengambilan ulang adegan meski dialog sudah benar, apabila emosi yang ditampilkan belum sesuai.

“Kalau emosinya belum dapat, ya diulang,” kata Ringgo.

Sementara itu, Dian Sastrowardoyo yang berperan sebagai Laras sekaligus bertindak sebagai produser menjelaskan secara teknis kru dan pemain menggunakan naskah berbahasa Indonesia, sementara sutradara memegang versi bahasa Inggris.

“Terjemahannya harus benar-benar plek-ketiplek,” ujar Dian.

Film “Esok Tanpa Ibu” sendiri dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai Kamis, 22 Januari 2026. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow