Kabarbaru Foundation Sukses Gelar Diskusi Zero Emission di Kota Gresik
Gresik menatap masa depan dengan ambisi besar: menjadi kota Zero Emission, bebas dari emisi gas rumah kaca.
GRESIK Gresik menatap masa depan dengan ambisi besar: menjadi kota Zero Emission, bebas dari emisi gas rumah kaca. Target ini bukan sekadar jargon, tetapi agenda nyata yang menuntut aksi tegas pemerintah, masyarakat, dan industri.
Dalam acara Ngobrol Indonesia Hijau yang digelar Kabarbaru Foundation di Joglo Mie Arjuna, Kedanyang, Sabtu (10/1/2026), para narasumber sepakat: pencemaran lingkungan di Gresik sudah mencapai titik kritis dan tidak bisa lagi ditoleransi.
"Gresik Zero Emission bukan sekadar jargon, melainkan agenda jangka panjang untuk menekan emisi gas rumah kaca melalui regulasi industri, pengurangan polusi transportasi, transisi energi bersih, dan pengelolaan limbah secara berkelanjutan," ujar Nur Islakhun Nisa’, Peneliti Muda Lingkungan dan Dosen Universitas Sunan Gresik.
Nur menambahkan, beban utama polusi di Gresik berasal dari industri berat dan berbasis energi fosil, kawasan industri dengan limbah cair dan udara tinggi, serta aktivitas logistik skala besar. Dampaknya dirasakan langsung di wilayah pesisir, permukiman warga, dan daerah aliran sungai.
Azhar Romadlon, pegiat lingkungan Gresik, menekankan bahwa agenda Zero Emission menuntut kolaborasi semua pihak. "Ini bukan sekadar target, tapi aksi nyata untuk menekan emisi hingga nol melalui energi terbarukan, efisiensi energi, dan transportasi ramah lingkungan. Pemerintah dan masyarakat harus bergerak bersama atau dampak polusi akan terus dirasakan warga," katanya.
Azhar menyoroti industri berat sebagai penyumbang polusi terbesar. "Industri seperti semen dan petrokimia menjadi biang polusi terbesar di Gresik. Jika korporasi perusak lingkungan dibiarkan, ekosistem rusak dan kesehatan warga terancam. Tindakan tegas dan restorasi bukan pilihan, ini keharusan," tegasnya.
Dari perspektif regulasi, Yuyun Wahyudi, anggota DPRD Gresik, mengingatkan sejarah panjang kerusakan lingkungan. "Sejak Babilonia, jelas bahwa lingkungan yang diabaikan selalu berujung krisis. Regulasi pidana lingkungan kini memberi perlindungan bagi pejuang dan pengkritik lingkungan agar suara mereka tak dibungkam," katanya.
Yuyun menambahkan, industri berat, termasuk smelting logam, terus mencemari udara dan menebar limbah berbahaya. "Tidak ada toleransi bagi korporasi perusak lingkungan," tegasnya.
Masyarakat juga memegang peran strategis. Kampanye lingkungan, aksi protes, dukungan terhadap energi terbarukan, dan pengawasan aktif terhadap industri dianggap kunci keberhasilan Gresik Zero Emission. Pemerintah diharapkan memberi insentif penggunaan energi bersih dan menegakkan sanksi bagi pelanggar regulasi.
Target Gresik jelas: mengurangi emisi gas rumah kaca 50% pada 2030 dan mencapai Zero Emission pada 2050. Namun tantangan besar tetap ada, mulai dari keterbatasan infrastruktur energi terbarukan hingga kebutuhan investasi yang tinggi. Para narasumber sepakat, tanpa kerja sama semua pihak, target ambisius ini mustahil tercapai.
Ngobrol Indonesia Hijau menjadi pengingat bahwa agenda lingkungan bukan sekadar dokumen atau target ambisius, melainkan tanggung jawab bersama. Waktu untuk bertindak sudah semakin sempit, dampak polusi nyata, dan ekosistem serta kesehatan warga menunggu tindakan, bukan janji.
Apa Reaksi Anda?