Materialists: Ketika Cinta Dihitung, Perempuan yang Diadili
Film Materialists menguliti cinta modern lewat kisah mak comblang New York yang dihadapkan pada pilihan antara stabilitas finansial dan kejujuran emosional, dalam kritik tajam soal relasi dan perempua
JAKARTA Setelah mengguncang dunia perfilman lewat Past Lives (2023), sutradara Celine Song kembali dengan karya terbarunya berjudul Materialists. Film ini resmi menyapa penonton Netflix pada Desember 2025, usai lebih dulu tayang di bioskop sejak Agustus tahun yang sama.
Jika Past Lives dibangun dari nostalgia, kerinduan, dan cinta yang tertinggal di masa lalu, Materialists bergerak ke wilayah yang lebih tajam. Song kali ini menyoroti relasi romantis di tengah kota modern dengan sudut pandang kritis, mempertemukan cinta, status sosial, dan nilai diri perempuan dalam lanskap kapitalisme urban.
Tokoh sentral film ini adalah Lucy, mak comblang profesional di sebuah biro jodoh elite New York yang diperankan Dakota Johnson. Lucy terbiasa meramu kecocokan cinta melalui data: latar belakang pendidikan, penghasilan, gaya hidup, hingga kelas sosial. Bagi kliennya, asmara adalah soal kalkulasi, bukan perasaan semata.
Ironinya muncul saat Lucy harus menerapkan logika itu pada hidupnya sendiri. Ia terjebak dalam dilema personal yang tak bisa diselesaikan dengan grafik atau algoritma: memilih pasangan hidupnya.
Lucy berdiri di antara dua laki-laki dengan dunia yang bertolak belakang. Harry (Pedro Pascal) adalah figur pria mapan, matang, stabil secara emosional dan finansial. Ia adalah gambaran pasangan ideal versi masyarakat—aman, rasional, dan menjanjikan masa depan tanpa kejutan.
Sebaliknya, John (Chris Evans), mantan kekasih Lucy, hidup dalam ketidakpastian. Karier aktingnya belum stabil, hidupnya penuh kompromi, dan masa depannya samar. Namun, dari John, Lucy mendapatkan kejujuran, kedekatan emosional, dan perasaan dipahami—sesuatu yang tak bisa diukur oleh angka.
Segitiga emosional ini menjadi jantung konflik Materialists: pertarungan antara cinta yang aman secara material dan cinta yang terasa tulus secara emosional.
Sebagai penulis sekaligus sutradara, Celine Song tetap setia pada gaya khasnya. Dialog reflektif, tempo yang tenang, serta konflik batin yang disampaikan lewat keheningan dan bahasa tubuh menjadi kekuatan utama. Namun dibandingkan Past Lives yang lembut dan melankolis, Materialists tampil lebih sinis dan konfrontatif.
Film ini bukan romansa konvensional. Justru, Song membongkar ilusi romantisme itu sendiri.
New York digambarkan dingin dan kompetitif. Apartemen mewah, restoran mahal, dan kantor modern bukan simbol pencapaian, melainkan tekanan sosial yang memengaruhi cara orang mencintai. Relasi personal terasa seperti transaksi, dan Lucy berada tepat di pusat pusaran itu—sebagai pelaku sekaligus korban sistem.
Dari sudut pandang feminis, Materialists tampil relevan dan berani. Lucy bukan perempuan pasif yang menunggu dipilih. Ia sadar akan nilai dirinya, memahami realitas ekonomi, dan mengakui bahwa cinta kerap bersinggungan dengan kelas sosial dan rasa aman finansial.
Film ini secara tajam mengkritik standar ganda yang dibebankan pada perempuan. Di satu sisi, perempuan diharapkan memilih pasangan mapan. Di sisi lain, ketika mempertimbangkan faktor ekonomi, mereka justru dicap materialistis dan tak tulus.
Melalui Lucy, Song membalik narasi tersebut. Pertanyaan utama film ini bukan apakah Lucy terlalu materialistis, melainkan mengapa perempuan terus dihakimi saat bersikap realistis terhadap hidupnya sendiri.
Profesi Lucy sebagai mak comblang menjadi metafora kuat. Ia membantu orang lain menemukan pasangan ideal versi pasar, namun ketika melakukan hal serupa untuk dirinya sendiri, ia justru diseret ke ruang penghakiman moral.
Dakota Johnson tampil meyakinkan sebagai Lucy—cerdas, rapuh, dan penuh kontradiksi. Pedro Pascal memancarkan pesona pria “sempurna” yang nyaris tanpa cela, sementara Chris Evans menghadirkan kehangatan sekaligus frustrasi seorang pria yang belum selesai dengan hidupnya. Dinamika ketiganya membuat konflik film terasa hidup dan kompleks.
Materialists menolak akhir bahagia yang sederhana. Pilihan Lucy tidak digambarkan sebagai kemenangan romantis, melainkan keputusan sadar seorang perempuan dewasa yang memahami konsekuensi emosional dan sosial dari setiap langkahnya.
Sebagai tontonan akhir tahun, Materialists bukan romansa ringan yang memberi rasa nyaman. Film ini justru mengajak penonton merenungkan ulang makna cinta di era modern—ketika perasaan, logika, dan struktur sosial saling beradu.
Dengan visi penyutradaraan khas Celine Song dan perspektif perempuan yang kuat, Materialists layak ditonton bukan untuk mencari jawaban, melainkan untuk mempertanyakan kembali arti cinta, nilai diri, dan kebebasan memilih. (*)
Apa Reaksi Anda?