Ketahanan Informasi

Ini Tanggapan Dosen FISIP Unair Surabaya Atas Perbedaan Pemberitaan Kasus Reynhard Sinaga.

Senin, 20 Januari 2020 - 16:03 | 28.81k
Ini Tanggapan Dosen FISIP Unair Surabaya Atas Perbedaan Pemberitaan Kasus Reynhard Sinaga.
Dosen Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof. Dra. Rachma Ida, M.Comms, PhD. (FOTO: AJP/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, SURABAYA – Dosen Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unair Surabaya, Prof. Dra. Rachma Ida, M.Comms, PhD turut memberikan tanggapan soal media yang mengulas kasus Reynhard Sinaga. 

Diketahui Reynhard Sinaga merupakan mahasiswa Indonesia di Manchester Inggris yang dinyatakan bersalah atas kasus pemerkosaan

Berbagai media baik dalam maupun luar negeri saling bersaing untuk memberitakan kasus yang menjadi sejarah kriminal di Inggris itu. Secara tidak langsung, pemberitaan tersebut memperlihatkan bagaimana pengemasan plot naskah berita yang berbeda dalam sistem kerja media, terutama media Inggris dan Indonesia.

Perbedaan media Inggris yang mencolok dibandingkan dengan media Indonesia adalah mereka tidak mengeksploitasi identitas korban dan pelaku. Alih-alih fokus pada penelusuran kronologi hingga terbongkarnya kasus pelecehan seksual Reynhard, media Indonesia justru menggunakan clickbait tentang kehidupan keluarga, kekayaan, kemewahan rumah, dan sebagainya untuk menarik masa pembaca.

Prof. Rachma beranggapan sikap diam media Inggris sejak tahun 2017 hingga terungkapnya kasus Reynhard diawal tahun 2020 menunjukkan tentang etika dan law journalism yang ketat dan benar-benar dijunjung tinggi oleh mereka. 

Artinya, media baru akan melakukan pemberitaan dengan investigasi journalism setelah kasus persidangan berakhir dengan putusan final.

“Selama belum ada putusan, maka praduga tidak bersalah tetap harus dijunjung tinggi oleh media. Jangan sampai media melakukan trial by the press yang berarti media menghakimi individu yang belum diputus bersalah oleh pengadilan. Itu adalah etika yang dijaga benar oleh Inggris,” terangnya pada TIMES Indonesia.

Berbeda dengan Inggris, Prof. Ida, sapaan akrabnya mengemukakan bahwa etika dan hukum media di Indonesia tidak lagi ditegakkan. 

Hal itu dikarenakan media Indonesia bersifat kapitalisme yang hanya mengejar keuntungan dibandingkan fungsi media sebenarnya untuk menjunjung etika.

Dengan prinsip kapitalisme itu, Prof Ida menganggap bahwa berita sensasional dianggap lebih laku dibandingkan pengemasan naskah yang dilakukan dengan baik sesuai etika ditengah kompetisi media digital yang cepat sekarang ini.

“Aslinya Inggris juga menganut dan mengedepankan sistem kapitalisme. Meskipun mereka komprehensif dalam pemberitaan untuk menggaet iklan, namun etika tetap menjadi nomer satu. Jika tidak, mereka akan dikenai sanksi oleh negara,” tambahnya.

Untuk meminalisir berita sensasional sekarang ini, Prof Ida menyarankan supaya media Indonesia harus melakukan praktik jurnalisme yang beretika sesuai dengan Kode Etik Jurnalistik (KEJ) dan Kode Etik Wartawan Indonesia (KEWI). 

Selain itu, institusi pengawas media seperti Dewan Pers dan jajarannya juga harus mempunyai aturan tegas dalam menindak media yang melanggar batas-batas Hak Asasi Manusia dalam naskah beritanya.

Lebih lajut, Prof. Ida menyatakan bahwa pemberitaan kasus pelecehan seksual harus dilakukan dengan jernih sesuai pokok permasalahannya. 

Dosen yang sekaligus Guru Besar Kajian Media pertama di Indonesia itu mengungkapkan bahwa media harus selalu berpihak pada korban, karena pelecehan seksual sudah masuk dalam ranah hukum. Sementara itu, media juga tidak boleh mengumbar pelaku dengan menjadikan bual-bualan dalam beritanya.

“Konsep convering both sides harus dilakukan. Dalam melaporkan pelaku kejahatan seksual, media harus menyamarkan atau menggunakan istilah pelaku sebelum keputusan akhir dibacakan, sedangkan korban juga jangan terlalu diekspose secara terus menerus. Artinya, pers harus bersikap proporsional,” beber Dosen Ilmu Komunikasi (Ilkom) Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (FISIP) Unair Surabaya itu. (*)



Publisher : Lucky Setyo Hendrawan
Reaksi Anda
KOMENTAR

EKORAN

TIMES TV

Pasar Rakyat UMKM Herbangin Hadir di Kota Kediri

Pasar Rakyat UMKM Herbangin Hadir di Kota Kediri

22/02/2020 - 20:01

Lagu Indonesia Raya Mengantar Keberangkatan WNI dari Natuna

Lagu Indonesia Raya Mengantar Keberangkatan WNI dari Natuna
Grup Musik Angklung Shalawatan Meriahkan CFD di Situbondo

Grup Musik Angklung Shalawatan Meriahkan CFD di Situbondo
Pilkada Kabupaten Malang 2020, Hasan Abadi Optimis dapat Rekom Partai

Pilkada Kabupaten Malang 2020, Hasan Abadi Optimis dapat Rekom Partai
Bacalon Bupati Malang Merebut Rekom Partai

Bacalon Bupati Malang Merebut Rekom Partai
Follow TIMES Indonesia di Google News

iGuides

  • Hadir Bernuansa Modern, Bendega Restaurant Bali Terekomendasi 5 Star iGuides
    12/10/2019 - 11:05
  • Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    Ambience Unik, The Junction House Seminyak Terekomendasi 5 Star dari iGuides
    02/09/2019 - 18:24
  • Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    Pelayanan Prima Platinum Adisucipto Hotel & Conference, iGuides Berikan Recommended 5 Star
    26/07/2019 - 20:00
  • Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    Hotel Savana Malang Got Five Stars from iGuides
    25/05/2019 - 23:20
  • Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    Cari Hotel di Kota Pendidikan? iGuides: Hotel Savana Malang Recommended Lima Star
    23/05/2019 - 15:05

KOPI TIMES

  • Mendorong Semangat Inovasi di Perguruan Tinggi
    Mendorong Semangat Inovasi di Perguruan Tinggi
    27/02/2020 - 16:06
  • Resume Banjir Jakarta
    Resume Banjir Jakarta
    27/02/2020 - 15:17
  • Hapus Jaminan Halal Demi Genjot Pendapatan Negara
    Hapus Jaminan Halal Demi Genjot Pendapatan Negara
    27/02/2020 - 14:04
  • PKB dan Pilkada Kabupaten Malang
    PKB dan Pilkada Kabupaten Malang
    27/02/2020 - 13:40
  • Membutuhkan Banyak Perda Pesantren
    Membutuhkan Banyak Perda Pesantren
    27/02/2020 - 11:29
  • Ekstrakulikuler Kepramukaan yang Mempertaruhkan
    Ekstrakulikuler Kepramukaan yang Mempertaruhkan
    27/02/2020 - 11:17
  • “Ekspor” Bencana
    “Ekspor” Bencana
    27/02/2020 - 11:01
  • Jangan Hanya Fokus Bikin UU
    Jangan Hanya Fokus Bikin UU
    27/02/2020 - 10:15
  • Kalapas Kembangkuning Cilacap Diperiksa KPK
    Kalapas Kembangkuning Cilacap Diperiksa KPK
    27/02/2020 - 17:00
  • Warganet Soroti Iguana Asyik Berenang Saat Banjir
    Warganet Soroti Iguana Asyik Berenang Saat Banjir
    27/02/2020 - 17:00
  • Cegah Mobil Kena Banjir, Viral Solusi Kreatif nan Mendebarkan
    Cegah Mobil Kena Banjir, Viral Solusi Kreatif nan Mendebarkan
    27/02/2020 - 17:00
  • Gubernur Santai Saja, saat Banjir, Warga Jakarta Masih 'Happy' Main TikTok
    Gubernur Santai Saja, saat Banjir, Warga Jakarta Masih 'Happy' Main TikTok
    27/02/2020 - 16:56
  • Ditolak Arab Saudi, Bos Garuda: Bagi yang Baru Umrah Ini Pukulan Berat
    Ditolak Arab Saudi, Bos Garuda: Bagi yang Baru Umrah Ini Pukulan Berat
    27/02/2020 - 16:55
  • Pecah Kerusuhan, Bendera Hanoman Dikibarkan di Menara Masjid
    Pecah Kerusuhan, Bendera Hanoman Dikibarkan di Menara Masjid
    27/02/2020 - 00:13
  • Dikritik Soal Banjir, Ridwan Kamil Putuskan Pulang ke Tanah Air
    Dikritik Soal Banjir, Ridwan Kamil Putuskan Pulang ke Tanah Air
    27/02/2020 - 09:51
  • Arab Saudi Bekukan Sementara Umrah Akibat Virus Corona
    Arab Saudi Bekukan Sementara Umrah Akibat Virus Corona
    27/02/2020 - 08:28
  • Pengendara Wajib Waspada Jelang Kamis Dini Hari Ini
    Pengendara Wajib Waspada Jelang Kamis Dini Hari Ini
    27/02/2020 - 02:43
  • Penampilan Ariel Tatum di BIMA 2020 yang Bikin Gagal Fokus
    Penampilan Ariel Tatum di BIMA 2020 yang Bikin Gagal Fokus
    27/02/2020 - 06:06