Tajuk Redaksi: Gen Z dan Ilusi Kaya Instan

Dunia digital bergerak serba cepat, dan Generasi Z tumbuh di tengah arus informasi tanpa henti. Di linimasa media sosial, kehidupan orang lain kerap tampak gemerlap. Liburan mewah, gawai terbaru, mobi

Januari 18, 2026 - 11:00
Tajuk Redaksi: Gen Z dan Ilusi Kaya Instan

JAKARTA Dunia digital bergerak serba cepat, dan Generasi Z tumbuh di tengah arus informasi tanpa henti. Di linimasa media sosial, kehidupan orang lain kerap tampak gemerlap. Liburan mewah, gawai terbaru, mobil sport, semuanya terpampang seolah standar keseharian. 

Laporan TIMES Indonesia mencatat, tekanan sosial untuk “segera berhasil” dan rasa takut tertinggal menjadikan impian kaya instan begitu menggiurkan. Fenomena flexing (memamerkan kekayaan di media sosial) menambah bahan bakar pada aspirasi instan ini. Siapa yang tak tergoda melihat teman sebaya berpose di depan mobil mewah atau memakai jam tangan berharga ratusan juta?

Namun, kilau di layar sering kali menipu. Kita patut bertanya, berapa banyak dari kemewahan instan itu yang nyata hasil jerih payah, dan berapa yang sekadar ilusi atau bahkan penipuan?

Mindset keuangan Gen Z banyak dipengaruhi budaya instan ini. Terbukti, banyak anak muda terjebak gaya hidup konsumtif, utang paylater, dan standar kesuksesan semu yang diproduksi media sosial. Pada akhirnya, tanpa literasi finansial dan kesabaran, impian instan justru berisiko menjadi mimpi buruk.

Dari Flexing ke Bui

Masih jelas rekam jejak digital bagaimana publik dikejutkan oleh tumbangnya dua influencer muda yang sempat dijuluki crazy rich. Indra Kenz dan Doni Salmanan, keduanya generasi milenial akhir yang kerap unjuk kemewahan di media sosial, tiba-tiba harus mengenakan baju tahanan.

Keduanya dibui kasus investasi bodong dan penipuan pada awal 2022. Indra Kesuma alias Indra Kenz, yang di Instagram sering berpose dengan deretan mobil sport dan arloji desainer, membanggakan kaos seharga ratusan juta. Hanya sebulan berselang, ia harus menanggalkan pakaian mewah itu dan berganti mengenakan rompi oranye tahanan. 

Lalu, Doni Salmanan, yang gemar flexing hingga mengaku pernah memberi donasi ratusan ribu dolar karena “iseng”, juga bernasib serupa. Klaim kekayaan mereka dari trading cepat bak jalan pintas rupanya hanya fatamorgana. Ratusan korban justru menderita kerugian miliaran rupiah akibat skema mereka. 

Pada akhirnya, kedua figur ini dijatuhi hukuman penjara atas perbuatannya. Sebuah anti-klimaks yang pahit namun sarat pelajaran.

Ironinya, meski kasus Indra Kenz dan Doni Salmanan sudah menjadi sorotan nasional, bahkan lengkap dengan permintaan maaf mereka agar kasusnya jadi peringatan bagi calon investor lain, tapi masih ada generasi muda yang nyaris mengulang cerita serupa. 

Baru-baru ini, nama Timothy Ronald mencuat sebagai influencer keuangan yang dilaporkan ke polisi atas dugaan penipuan investasi kripto. Timothy dikenal lantang bicara soal betapa mudahnya “kaya lewat kripto”, kerap memamerkan kekayaan dan gaya hidup glamor, bahkan acap merendahkan mereka yang dianggapnya berpikiran “mental miskin”. 

Ribuan orang tergabung dalam komunitasnya. Terbuai mimpi serupa. Nahas, sekitar 3.500 orang kini mengaku menjadi korban dengan total kerugian lebih dari Rp 200 miliar akibat investasi yang ia tawarkan. Laporan resmi ke Polda Metro Jaya telah dilayangkan, dan sang “guru kaya” Timothy pun tengah diselidiki aparat hukum. 

Kasus demi kasus ini menjadi cermin yang sangat jelas di negeri ini. Bahwa, betapa ilusi kaya instan dapat menjerat siapa saja. Terutama Generasi Z yang berada di garis depan risiko tersebut.

Ubah Mindset: Proses, Kerja Keras, dan Kejujuran

Kisah-kisah di atas bukan untuk menghakimi. Kisah itu patut menjadi refleksi bersama. Mengapa Generasi Z mudah tergiur jalan pintas menuju kaya? 

Selain pengaruh sosial media, ada faktor kegelisahan akan masa depan di tengah kondisi ekonomi yang menantang. Kita memahami kegundahan itu. Biaya hidup meningkat, peluang kerja tak selalu sebanding dengan jumlah lulusan, sementara di Instagram orang lain tampak sudah sukses lebih dulu. Rasa panik dan fear of missing out mudah muncul.

Empati kita pada tekanan yang dihadapi anak muda harus selalu ada. Tetapi justru karena empati itulah, perlu disampaikan sebuah pesan bijaksana: tidak ada kekayaan yang benar-benar instan.
Bahkan para pelaku industri finansial pun mengingatkan bahwa “mindset pengen cepat kaya” adalah problem serius yang harus diubah. 

Gabriel Rey, seorang pionir bisnis kripto di Indonesia, menegaskan bahwa kemewahan yang sering terlihat di media sosial acap disalahartikan sebagai hasil instan investasi, padahal di baliknya ada proses panjang bertahun-tahun. “Saya sudah 12 tahun di market. Tidak ada cerita beli Bitcoin hari ini, bulan depan langsung beli mobil sport. Itu mindset yang salah,” ujarnya menekankan.

Pesan senada datang dari berbagai pihak: untuk menjadi kaya, proses dan tahapan tidak bisa dielakkan. Jalan pintas yang menghalalkan segala cara justru berujung penyesalan.

Inilah saatnya generasi muda mengubah paradigma. Kaya instan bukanlah tujuan, dan flexing bukan ukuran sukses sejati. Daripada terjebak skema cepat kaya yang palsu, lebih baik fokus membangun pondasi finansial yang kokoh dengan cara-cara yang jujur dan berintegritas. 

Mulailah dari hal sederhana: tingkatkan literasi keuangan, kenali risiko sebelum investasi, dan tanamkan prinsip bahwa hasil besar datang dari usaha yang tekun. Jika melihat peluang di media sosial, manfaatkan secara positif. Bukan untuk pamer, melainkan untuk belajar, berjejaring, atau merintis usaha kecil yang jujur.

Generasi Z dikenal adaptif dan kreatif. Potensi ini akan jauh lebih bernilai jika dibarengi kesabaran dan etika. Kisah Indra Kenz, Doni Salmanan, hingga Timothy Ronald adalah lampu kuning yang mengingatkan kita bahwa gemerlap kaya mendadak sering berujung padam secara tragis.

Tidak ada kekayaan instan yang abadi. Yang ada adalah kerja keras yang konsisten, proses jatuh bangun yang membentuk karakter, dan rezeki yang dipupuk perlahan dengan niat baik.

Sebagai generasi penerus, Gen Z diharapkan mengambil hikmah dari kasus-kasus tersebut tanpa merasa disudutkan. Justru ini saatnya bangkit dengan mindset baru: sukses finansial boleh diraih di usia muda, tetapi caranya melalui jalan yang benar, bukan jalan tikus. 

Bangunlah masa depan dengan fondasi kejujuran dan ketekunan. Ketika godaan “cepat kaya” datang, ingatlah bahwa pencapaian yang bermakna jarang terjadi dalam semalam. Uang bisa datang dan pergi, tapi nilai diri dan integritas akan terus melekat sepanjang hayat. 

Gen Z bukanlah “Generasi Instan”, melainkan generasi cerdas yang mampu memilah mana kilau semu dan mana emas asli. Dengan kembali ke jalur proses dan kerja keras, generasi ini justru berpeluang menciptakan kesuksesan yang bermartabat dan berkelanjutan. Sebuah kesuksesan yang bisa dibanggakan tanpa perlu flexing, karena nyata diraih dengan keringat dan kejujuran. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow