Akafarma Sunan Giri Ponorogo Perkuat Literasi Keamanan, Dorong Mahasiswa Berani Melapor Kasus Kekerasan
Bukti serius mewujudkan lingkungan akademik yang bebas dari segala bentuk intimidasi dan kekerasan, Akafarma Sunan Giri Ponorogo mengambil langkah nyata dengan menggelar Sosialisasi Pencegahan dan Pen
PONOROGO Bukti serius mewujudkan lingkungan akademik yang bebas dari segala bentuk intimidasi dan kekerasan, Akafarma Sunan Giri Ponorogo mengambil langkah nyata dengan menggelar Sosialisasi Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi (PPKPT).
Kegiatan ini berlangsung dengan fokus utama untuk memperkuat sistem perlindungan dan mendorong peran aktif seluruh civitas akademika, khususnya mahasiswa.
Sosialisasi yang dihadiri seluruh mahasiswa AkaFarma Sunan Giri Ponorogo ini bukan sekadar seremoni, melainkan sebuah respons nyata terhadap tantangan serius yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di Indonesia.
Data dari Komnas Perempuan dan Kemendikbudristek, menunjukkan bahwa kasus kekerasan, terutama kekerasan seksual, menjadi isu krusial yang perlu ditangani secara tuntas di lingkungan kampus. Bahkan, survei menunjukkan bahwa puluhan persen dosen mengakui kekerasan seksual pernah terjadi di kampus, namun sayangnya, banyak korban yang memilih untuk tidak melapor karena berbagai faktor, mulai dari relasi kuasa hingga ketakutan akan stigma.
Membangun "Rumah Kedua" yang Aman
Ketua Satuan Tugas (Satgas) Pencegahan dan Penanganan Kekerasan, Charlis Palupi, dalam sambutannya menegaskan bahwa inisiatif sosialisasi ini adalah pilar penting untuk menciptakan apa yang ia sebut sebagai "rumah kedua" yang aman bagi mahasiswa.
“Penguatan literasi keamanan kampus adalah prioritas utama kami,” ujar Charlis Palupi dengan nada tegas di hadapan peserta, Jumat (28/11/2025).
“Kampus harus menjadi ruang yang menjunjung tinggi martabat, di mana setiap individu merasa dilindungi. Untuk itu, setiap civitas akademika wajib memahami bentuk-bentuk kekerasan, mulai dari fisik, psikis, hingga kekerasan seksual dan perundungan digital (cyber bullying),” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan memastikan seluruh komponen kampus, mulai dari pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, hingga mahasiswa, memahami pedoman pencegahan dan alur penanganan sesuai peraturan yang berlaku, seperti yang tertuang dalam Permendikbudristek Nomor 30 Tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.
Partisipasi Aktif dan Keberanian Melapor Sebagai Kunci
Pesan penting Ketua Satgas Charlis Palupi adalah partisipasi dan keberanian untuk bertindak.
“Sosialisasi ini penting agar seluruh civitas memahami perannya. Penanganan kasus tidak akan optimal tanpa partisipasi dan keberanian untuk melapor,” tegas Charlis.
Pernyataan ini menyoroti salah satu hambatan terbesar dalam penanganan kasus di lingkungan kampus, yaitu minimnya laporan dari korban. Relasi kuasa antara pelaku dan korban, serta ketakutan korban menghadapi proses hukum atau stigma sosial, seringkali menjadi tembok penghalang.
Melalui sosialisasi ini, Akafarma Sunan Giri Ponorogo berupaya menumbuhkan kepercayaan diri mahasiswa bahwa sistem pelaporan yang ada akan berjalan secara responsif, berpihak pada korban, dan menjamin kerahasiaan.
Diharapkan, dengan meningkatnya literasi dan pemahaman mengenai alur pelaporan, mahasiswa tidak lagi merasa sendiri atau takut saat menghadapi atau menyaksikan tindak kekerasan. Keberanian satu orang untuk melapor akan menjadi gerbang bagi terciptanya lingkungan yang benar-benar akuntabel dan bebas dari imunitas.
Komitmen Akafarma Wujudkan Kampus Bebas Kekerasan
Langkah Akafarma Sunan Giri Ponorogo ini sejalan dengan komitmen nasional untuk membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan non-diskriminatif.
Dengan melibatkan seluruh mahasiswa, kampus ini menunjukkan keseriusan dalam mengutamakan isu keselamatan di lingkungan akademik.
Kegiatan Sosialisasi PPKPT di Ponorogo ini diharapkan tidak hanya berhenti pada penyampaian materi, tetapi juga diikuti dengan pembentukan budaya kampus yang saling menghormati, menjaga batas-batas pribadi, dan menolak segala bentuk kekerasan. Ini adalah sebuah perjalanan panjang, di mana penguatan Satgas dan mekanisme penanganan harus terus diperbarui, didukung oleh semangat kolektif untuk menjadikan Akafarma Sunan Giri Ponorogo sebagai model Kampus Aman di wilayah Jawa Timur. (*)
Apa Reaksi Anda?