Inspirasi Pangan dari Desa, Ini Sosok Pemberdaya Petani Lokal dan Angkat Daerah
Hidup di wilayah pedesaan kerap identik dengan pinggiran dan ketertinggalan. Namun, tidak jarang dari kehidupan di desa mampu menjadi inspirasi yang dikenal luas.
MALANG Hidup di wilayah pedesaan kerap identik dengan pinggiran dan ketertinggalan. Namun, tidak jarang dari kehidupan di desa mampu menjadi inspirasi yang dikenal luas.
Di balik alam dan lingkungan pedesaan yang masih asri dan mungkin masih sunyi, didapati sosok-sosok hebat yang menginspirasi. Keuletan dan kerja keras mereka memberdayakan, yang mampu mengangkat daerah dan masyarakat lokal.
Berikut sosok-sosok inspiratif dari desa yang didapati TIMES Indonesia:
Zainul Abidin, Aktif Angkat Petani Jamur
Di wilayah bagian barat Kabupaten Malang, ada nama Zainal Abidin (37), petani yang sekaligus menjadi sosok pemberdaya masyarakat desa.
Abidin sendiri berasal dari Desa Banjararum Singosari Kabupaten Malang. Namun, usaha dan pemberdayaan jamur yang digelutinya ada di daerah Pujon Kabupaten Malang.
Holik (tengah), petani lokal dari Desa Harjokuncaran Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang, saat menerima tim kunjungan dari Perancis bersama pihak Universitas Brawijaya Malang, belum lama ini
"Saya milih usaha sektor pertanian jamur karena potensial, dan perputaran uangnya cepat tiap hari. Sayur jadi kebutuhan konsumsi masyarakat, bagus juga untuk kesehatan," terang Abidin, Sabtu (17/1/2026).
Budidaya jamur adalah bidang pertanian yang sudah digelutinya sejak 2016 silam. Namun, Abidin bukan petani murni. Selama ini, bergeraknya lebih banyak sebagai pendamping petani jamur. Bisnis yang dijalankannya, pada produksi pupuk nutrisi untuk budidaya jamur.
Saat ini, ia mengembangkan riset pemanfaatan pupuk jamur nutrisi natural yang diproduksinya, dengan 500 responden dari 12 kabupaten untuk sampel jamur tiram putih. Hasilnya, responden menyatakan kenaikan 35 persen hasil panen jamur setelah menggunakan pupuk nutrisi tersebut.
Selama pengalamannya menekuni usaha sekaligus memberdayakan petani jamur, ia melihat prospek ekonomi budidaya jamur selama ini stabil perkembangannya. Meski, didapati ada yang buka tutup juga usahanya.
"Menurut saya prospeknya bagus dan bisa berkelanjutan, permintaan sayur jamur atau olahan jamur juga tinggi. Biasanya, petani yang gagal karena memang kurang bisa mengelola aspek keuangannya," ungkap Abidin.
Selain sebagai inisiatif usaha pribadi, bermitra dengan petani jamur di Pujon Kabupaten Malang dilakukan Abidin melalui NGO. Yakni, di bawah kegiatan Komunitas Rakyatpreneur.
Bahkan, alumni Manajemen Ekonomi Universitas Negeri Malang (UM) ini pernah mendampingi masyarakat pengrajin biting atau tusuk bambu, di Dusun Wonorejo Kasembon Kabupaten Malang. Ini dilakukannya sebagai pengabdian CSR pribadinya, setelah melihat bahan baku bambu banyak di daerah itu. Sementara, permintaan pasar juga tinggi.
Banyak sepak terjang pengalaman pendampingannya kepada petani, yang akhirnya mendapatkan penghargaan berbagai pihak. Diantaranya, pemenang Adu Ide Daya 2016 dari BTPN, dan juara 2 Kompetisi Kumpul Jasa Jember - program Kartu Prakerja dari Kemeko Perekonomian RI belum lama. ini.
Holik, Sukses Olah Lahan Kering Lebih Produktif
Dari daerah Malang Selatan, ada juga petani tangguh yang telah melahirkan perubahan bermakna. Namanya singkat, Holik (58). Tepatnya, berasal dari Desa Harjokuncaran Sumbermanjing Wetan Kabupaten Malang.
Beberapa tahun terakhir, Holik bergelut dengan lahan-lahan tidur dan tandus, yang tidak banyak dimanfaatkan atau dibiarkan begitu saja. Dengan keuletannya, ia pun menyulap beberapa lahan tidur ini menjadi lebih produktif.
Bagi Holik, menjadi petani adalah pilihan dan panggilan hati. Ia tidak melihat ukuran sukses dari mana, namun kemanfaatan yang didapatkan dari apa yang sudah diupayakannya. Baik bagi keluarga, maupun masyarakat dan pihak lain.
Di lahan yang dikelolanya, Holik menanam berbagai jenis tanaman, seperti kopi, pepaya, mentimun, paneli, dan komoditas lainnya. Selain menanam, ia rajin memanfaatkan gulma atau tanaman liar di lahan tidur untuk menunjang budidaya tanaman.
Gulma adalah tumbuhan yang tumbuh di tempat yang tidak diinginkan atau tidak semestinya, terutama di lahan pertanian. Gulma yang mengganggu ini justru dikumpulkan Holik. Ia lalu memanfaatkannya menjadi pupuk kompos.
Dua tahun terakhir, Holik juga mengelola lahan milik salah satu kampus di Kota Malang. Saat ini, lahan tidak produktif seluas 2,5 hektar di Desa Sumbersekar Dau Kabupaten Malang, juga menjadi tanggung jawabnya untuk lebih produktif.
"Lahan yang masih kosong seluas 2,5 hektar di Desa Sumbersekar kami tanami kopi robusta dan pisang, bersama anggota JATAM Kabupaten Malang. Dalam setahun, kami kelola. Semoga beberapa bulan ke depan sudah ada hasilnya," terang Holik.
Dari pengalamannya ini, Holik sering dikunjungi dari perguruan tinggi untuk belajar praktik-praktik baik pemuliaan yang sudah dilakukannya. (*)
Apa Reaksi Anda?