Kolaborasi Riset Lapangan oleh UPN Veteran dan Desa Wonocoyo sebagai Manifestasi Blue Economy di Pesisir Trenggalek

Dalam mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke 8 (pertumbuhan ekonomi dan kehidupan yang layak), tujuan ke 13 (aksi perubahan iklim), dan ke 15

Januari 9, 2026 - 09:00
Kolaborasi Riset Lapangan oleh UPN Veteran dan Desa Wonocoyo sebagai Manifestasi Blue Economy di Pesisir Trenggalek

JAKARTA Dalam mengimplementasikan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke 8 (pertumbuhan ekonomi dan kehidupan yang layak), tujuan ke 13 (aksi perubahan iklim), dan ke 15 (kehidupan di darat), UPN Veteran Jawa Timur dan Desa Wonocoyo, Kecamatan Panggul, Kabupaten Trenggalek, berkolaborasi lewat riset lapangan dan program pengabdian kepada masyarakat berbasis ekosistem mangrove. 

Kegiatan ini menerjunkan 5 orang sukarelawan muda yang direkrut lewat sistem perekrutan terbuka melalui media sosial. 5 sukarelawan terpilih ini kemudian difasilitasi untuk memetakan secara awal ekosistem mangrove di Desa Wonocoyo dan bagaimana sistem yang bekerja disana. Para sukarelawan tersebut diberikan fasilitas akomodasi selama melakukan riset dan kegiatan lapangan lainnya.

Untuk menjamin efektivitas dan komprehensitas data yang didapat, maka kegiatan para peneliti lapangan juga bervariasi. Pada hari-hari awal penerjunan, tim peneliti muda melakukan kegiatan observasi lapangan yang terletak dekat dengan konservasi penyu Pantai Kili-Kili. Selain observasi, tim peneliti muda juga melakukan kegiatan penanaman 700 bibit mangrove bersama Dinas Pendidikan Kabupaten Trenggalek. 

Setelah itu kegiatan tim peneliti muda tidak lepas dari wawancara yang dilakukan kepada para pengelola ekosistem mangrove, termasuk pemilik lahan, pelaksana budidaya, perwakilan Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Mangrove Wonocoyo, pemerintah desa, dan tokoh pemuda Desa Wonocoyo. Selain melakukan riset lapangan, tim peneliti muda juga berkesempatan mengikuti kegiatan proses pembuatan sirup dari buah bogem/pedada (buah dari jenis sonneratia caseolaris) oleh masyarakat lokal.

Praja Firdaus, sebagai salah satu inisiator program penelitian lapangan menyebutkan, program ini sebenarnya berusaha melakukan social capture untuk memudahkan pemetaan ekosistem mangrove yang ada di Desa Wonocoyo. "Mapping ini penting karena kami tidak ingin gerakan budidaya mangrove ini hanya sekedar selebrasi dan seremonial saja. Kita bisa lihat bahwa sering sekali gerakan penanaman mangrove hanya sekedar untuk pemenuhan kepentingan eksposur dan traffic saja. Hal tersebut berbahaya karena masyarakat kita akan dididik hanya untuk merayakan saja tanpa melakukan rawat dan ruwat," katanya.

Salah satu temuan tim peneliti muda di Desa Wonocoyo adalah permasalahan sampah yang dibawa dari hulu sungai sampai ke hilir sungai. Lokasi ekosistem mangrove Wonocoyo memang sangat berdekatan dengan hilir sungai atau muara laut. Sehingga ketika curah hujan tinggi maka air yang turun dari hulu sungai, terutama dari beberapa desa di Kecamatan Panggul dan Watulimo, akan turun deras ke ekosistem mangrove dengan membawa banyak sekali sampah. Sampah tersebut yang pada akhirnya akan menghambat pertumbuhan bibit-bibit mangrove yang sudah ditanam. 

Permasalahan ini sedikit berbeda dengan ekosistem mangrove yang ada di Surabaya, misalnya. Walaupun sama-sama terletak di pesisir, namun permasalahan sampah yang ada di Kebun Raya Mangrove Surabaya relatif lebih ringan karena sampah sudah terkelola sejak di kawasan perkotaan. Hasil temuan tersebut menambah konsiderasi para pengelola ekosistem mangrove di Wonocoyo akan pengembangan mangrove di pesisir Wonocoyo. 

Salah satu adaptasi yang kemudian mulai dipraktikkan adalah masyarakat Wonocoyo tidak lagi menanam bibit mangrove yang dibawa dari luar kota, namun hanya menanam bibit mangrove yang tumbuh dan jatuh dari pohon yang sudah tumbuh di ekosistem tersebut. Hal ini berhasil menekan biaya penanaman bibit dan biaya transportasi angkut bibit dari daerah lain sehingga dapat dialokasikan untuk adaptasi saat curah hujan lebat dan banyak sampah yang menyangkut di bibit mangrove.

Sekretaris Desa Wonocoyo, Eko Margono, menyampaikan, program ini merupakan perkenalan dan inisiatif yang sangat bagus. Wonocoyo sendiri baru saja menerima penghargaan Juara II Nasional sebagai Desa Wisata Berbasis Atraksi Alam oleh Kementerian Pariwisata Republik Indonesia. "Sehingga dengan adanya penelitian lapangan berbasis ekosistem mangrove ini bisa dijadikan rujukan pengembangan ekosistem mangrove Wonocoyo nanti kedepannya," katanya.

Selain kolaborasi antara UPN Veteran Jawa Timur dengan Desa Wonocoyo, program ini juga melibatkan Yayasan Mangrove Indonesia Lestari yang membantu proses rekrutmen terbuka untuk para sukarelawan, dan Yayasan Abyakta Acitya Bhumi (Akta Bumi) yang juga membantu dalam pelaksanaan di lapangan. 

Program berbasis komunitas seperti ini juga turut mendukung pelibatan multi-layered stakeholders sehingga diharapkan muncul pemikiran dan pelaksanaan gagasan lintas bidang keilmuan untuk dapat merespon perubahan iklim dengan cepat namun terukur dan efektif. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow