Seribu Tanaman TOGA Ditanam di Lima Zona Pengembangan di Desa Plosowahyu
Seribu tanaman obat keluarga (TOGA) ditanam di lima zona pengembangan Desa Plosowahyu, Kecamatan/Kabupaten Lamongan, Sabtu (30/8/2025).

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Seribu tanaman obat keluarga (TOGA) ditanam di lima zona pengembangan Desa Plosowahyu, Kecamatan/Kabupaten Lamongan, Sabtu (30/8/2025).
Program ini hasil kolaborasi dari Universitas Islam Lamongan (Unisla) melalui Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) bersama Karang Taruna dan PKK desa.
Untuk memperkuat pemanfaatan TOGA sebagai sarana edukasi, konservasi, sekaligus penguatan ekonomi masyarakat, zona pengembangan meliputi Edukasi sebagai sarana pembelajaran manfaat herbal. Produksi untuk budidaya bahan baku. Wisata sebagai destinasi edukasi berbasis herbal. Integratif sebagai ruang kolaborasi lintas kelompok, dan simbolik sebagai penanda identitas desa.
Dosen Unisla, Siska Ayu Wulandari, berharap program ini mampu mendorong semangat warga untuk menggali potensi lokal. Mahasiswa tidak hanya menjadi fasilitator inovasi, tetapi juga melibatkan masyarakat dalam seluruh proses pengembangan.
Sebagai tindak lanjut, pelatihan pembuatan produk berbasis temulawak, Ersanda Nurma Praditapuspa mengajari warga Plosowahyu untuk mengolah temulawak menjadi serbuk herbal, body lotion, dan sabun. “Produk ini diproyeksikan menjadi embrio usaha home industry yang memperkuat ekonomi hijau desa,” katanya.
Menurut Siska, integrasi dengan Program Kampung Iklim (ProKlim) juga disiapkan untuk memastikan keberlanjutan program. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek lingkungan, tetapi juga memperkuat dimensi sosial dan ekonomi.
Menurut Siska, pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh Unisla harus melahirkan dampak nyata bagi desa. Dengan pengembangan berbasis TOGA, Desa Plosowahyu berpeluang menjadi laboratorium alam yang inspiratif sekaligus model pemberdayaan yang dapat direplikasi di daerah lain.
Sementara itu, Kepala Desa Plosowahyu, Agus Susanto, menyampaikan apresiasinya atas kolaborasi ini. Menurut Agus, sinergi antara perguruan tinggi, Karang Taruna, dan PKK menjadi bukti bahwa desa bisa tumbuh lebih kuat jika ada kerja sama lintas elemen.
“Program ini bukan hanya soal menanam TOGA, tapi juga menumbuhkan semangat gotong royong yang sudah menjadi identitas Plosowahyu,” kata Agus.
Agus menambahkan, TOGA dipilih sebagai program unggulan karena memiliki nilai kesehatan, ekonomi, sekaligus lingkungan. “Kami ingin Plosowahyu punya ciri khas sebagai desa herbal dan desa sehat. Jangka panjangnya, TOGA diharapkan menjadi produk unggulan yang bisa meningkatkan perekonomian warga,” ujarnya.
Untuk menjaga keberlanjutan, Pemerintah Desa telah menyiapkan regulasi serta dukungan anggaran dari dana desa. "Bahkan, TOGA diintegrasikan dengan Program Kampung Iklim (ProKlim) agar manfaatnya berlapis mulai dari kesehatan masyarakat, ketahanan pangan, hingga mitigasi perubahan iklim," tuturnya.
Selain itu, Desa Plosowahyu juga aktif dalam program lingkungan tingkat provinsi maupun nasional. Saat ini desa telah mencapai level tertinggi, yakni Berseri Mandiri (DLH Jawa Timur) dan Proklim Lestari (Kementerian Lingkungan Hidup), sekaligus menjadi pembina bagi 9 desa/kelurahan lain di Lamongan.
Upaya memperkuat identitas herbal juga terlihat dari pembangunan taman PKK di setiap dusun dengan TOGA sebagai tanaman utama. Beberapa produk olahan seperti minuman bunga telang, sinom, dan bubuk temulawak bahkan sudah dipamerkan dalam Bazar UMKM di Lapangan Gajah Mada Lamongan.
“Harapan kami, Plosowahyu bisa menjadi desa percontohan pengembangan TOGA di Lamongan, bahkan Jawa Timur. Identitas desa sehat, ramah lingkungan, sekaligus mandiri secara ekonomi bisa terwujud melalui langkah kecil yang konsisten,” ucap Agus.(*)
Apa Reaksi Anda?






