Uji Emisi 2025: Bengkel Lokal di Bekasi Jadi Solusi Konversi Motor Karburator ke Injeksi

Menjelang penerapan aturan uji emisi yang lebih ketat di akhir tahun, bengkel-bengkel lokal mulai menjadi ruang adaptasi baru bagi pemilik motor karburator.

Januari 6, 2026 - 13:30
Uji Emisi 2025: Bengkel Lokal di Bekasi Jadi Solusi Konversi Motor Karburator ke Injeksi

JAKARTA Menjelang penerapan aturan uji emisi yang lebih ketat di akhir tahun, bengkel-bengkel lokal mulai menjadi ruang adaptasi baru bagi pemilik motor karburator. Kekhawatiran gagal tes emisi membuat banyak pengendara mencari cara agar kendaraan mereka tetap layak jalan sekaligus lebih efisien dan ramah lingkungan.

Salah satu bengkel yang merasakan lonjakan permintaan adalah Johan Garage di Bekasi. Bengkel kecil ini kini ramai didatangi pemilik motor yang ingin melakukan konversi dari karburator ke sistem injeksi.

Transisi teknologi yang sebelumnya dianggap hanya urusan pabrikan, kini mulai dipahami dan dipraktikkan langsung oleh pengguna motor harian.

Mayoritas motor yang datang memiliki masalah serupa: konsumsi bahan bakar boros, gas buang berlebihan, dan risiko gagal uji emisi. Namun, ketakutan itu berubah menjadi rasa ingin tahu setelah mereka mengetahui bahwa bengkel lokal menawarkan solusi pembakaran mesin yang lebih presisi.

Muhammad Farhan, CEO Johan Garage, menilai fenomena ini sebagai perubahan pola pikir pengguna motor.

“Banyak motor boros datang menjelang uji emisi. Dengan diubah ke injeksi, pembakaran jadi lebih presisi, lebih bersih, dan emisinya terkontrol. Bahan bakar juga bisa diatur, apakah mau hemat atau lebih bertenaga,” jelas Farhan.

Konversi injeksi di Johan Garage tidak sekadar memasang perangkat elektronik baru. Setiap motor melewati proses penyetelan Air Fuel Ratio (AFR) menggunakan dyno untuk memastikan pembakaran berlangsung optimal. Grafik dyno membantu teknisi membaca karakter mesin secara detail, sebuah pendekatan yang jarang dilakukan di bengkel kecil.

Farhan menambahkan, teknologi karburator memiliki keterbatasan bawaan karena sensitif terhadap suhu dan kondisi mesin. Inkonsistensi pembakaran sering berujung pada kegagalan uji emisi. Sebaliknya, sistem injeksi memberi ruang lebih besar untuk penyesuaian.

“Karbu sudah sulit mengikuti tuntutan emisi sekarang. Dengan remap AFR, kita bisa memastikan pembakarannya stabil dan bersih. Ini bukan hanya soal teknologi baru, tapi soal bagaimana pemilik motor bisa tetap memakai kendaraan lamanya tanpa merasa tertinggal,” ujarnya.

Bagi sebagian pemilik motor, konversi ini bukan sekadar perubahan teknis, melainkan bentuk adaptasi terhadap regulasi lingkungan yang semakin ketat. Mereka ingin memastikan motor harian tetap bisa digunakan tanpa terhambat aturan.

Di bengkel seperti Johan Garage, percakapan antara teknisi dan pelanggan menjadi ruang belajar baru.

Ada yang datang membawa motor lawas kesayangan, ada pula yang sekadar ingin menghemat bahan bakar. Namun semuanya berbagi pertanyaan yang sama: bagaimana memastikan motor tetap layak jalan di era uji emisi?

Farhan menegaskan, data dyno dan hasil pembakaran yang lebih bersih membuat banyak pelanggan akhirnya memahami mengapa motor injeksi kini menjadi standar baru.

“Kadang mereka datang dengan ragu, tapi setelah melihat hasilnya, mereka mulai paham kenapa injeksi lebih unggul,” katanya.

Dengan uji emisi sebagai penanda era baru perawatan kendaraan, transisi motor karburator ke injeksi diprediksi akan terus berlangsung. Tidak hanya di bengkel besar, tetapi juga di bengkel lokal yang kini memegang peran penting dalam membantu masyarakat beradaptasi dengan perubahan. (*)

Apa Reaksi Anda?

like

dislike

love

funny

angry

sad

wow