Seni Kepemimpinan dalam Deferensiasi Kognitif
Perbedaan daya tangkap pemahaman antarindividu merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dalam setiap ruang kepemimpinan, baik di lembaga pendidikan, pesantren, maupun organisasi sosial.
JEMBER Perbedaan daya tangkap pemahaman antarindividu merupakan realitas yang tidak dapat dihindari dalam setiap ruang kepemimpinan, baik di lembaga pendidikan, pesantren, maupun organisasi sosial. Perbedaan ini bersifat wajar dan alamiah, bukan indikator mutlak kecerdasan atau kualitas personal seseorang. Ia lahir dari pertemuan berbagai faktor kognitif, psikologis, dan pengalaman hidup yang membentuk cara individu memahami instruksi dan informasi.
Secara kognitif, setiap individu memiliki cara otak memproses informasi yang berbeda. Ada yang bekerja dengan kemampuan mengenali pola secara cepat sehingga cukup satu kali instruksi untuk langsung memahami inti persoalan.
Sebaliknya, ada pula yang memproses informasi secara bertahap dan linear, sehingga membutuhkan pengulangan agar makna instruksi benar-benar tersusun utuh. Perbedaan ini bukanlah kelemahan, melainkan perbedaan jalur kerja berpikir yang tidak dapat diseragamkan.
Selain itu, latar pengalaman dan pengetahuan awal sangat memengaruhi kecepatan pemahaman. Instruksi yang sama akan lebih mudah dipahami oleh individu yang telah memiliki skema konsep sebelumnya, sementara bagi yang belum memiliki pijakan pengetahuan, instruksi tersebut terasa baru dan membingungkan. Dalam konteks ini, satu instruksi ibarat kunci yang sama, tetapi gembok pemahaman setiap orang berbeda bentuk dan mekanismenya.
Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kapasitas memori kerja (working memory). Sebagian individu mampu menampung dan mengolah banyak informasi sekaligus, sementara yang lain mudah mengalami kelebihan beban ketika instruksi terlalu panjang atau abstrak. Kondisi ini sering kali menyebabkan instruksi perlu diulang, bukan karena individu tersebut tidak memahami, melainkan karena informasi terlepas sebelum sempat terangkai menjadi pemahaman utuh.
Dimensi psikologis juga berperan besar. Kecemasan, rasa takut salah, tekanan, atau minder dapat membuat otak masuk ke mode bertahan (survival), bukan mode belajar. Dalam kondisi demikian, seseorang tampak lambat menangkap instruksi, padahal yang terjadi sesungguhnya adalah ketegangan internal yang menghambat proses kognitif. Demikian pula, ketidaksesuaian antara gaya belajar dengan cara penyampaian instruksi, apakah verbal, visual, atau praktik dapat memperpanjang proses pemahaman dan memicu pengulangan.
Perbedaan antara pencarian makna dan sekadar hafalan teknis juga menjadi faktor krusial. Individu yang belum memahami tujuan dan alasan suatu instruksi akan terus bertanya pada aspek teknis pelaksanaan. Selama pertanyaan “mengapa ini dilakukan” belum terjawab, pengulangan instruksi akan terus terjadi.
Dalam konteks inilah kepemimpinan memainkan peran sentral. Pemimpin yang matang tidak menyikapi perbedaan daya tangkap sebagai hambatan, melainkan sebagai variabel kepemimpinan yang harus dikelola. Kepemimpinan bukan menuntut semua orang bergerak dengan kecepatan yang sama, tetapi memastikan bahwa setiap individu dapat bergerak menuju tujuan yang sama dengan ritme yang berbeda.
Sikap kepemimpinan yang bijak ditandai oleh kemampuan membaca perbedaan tanpa menghakimi. Pemimpin tidak serta-merta menyimpulkan ketidakmampuan ketika instruksi perlu diulang, melainkan mengevaluasi kejelasan komunikasi, kesesuaian metode, dan kondisi psikologis anggota. Dengan demikian, pengulangan instruksi tidak diposisikan sebagai kegagalan, tetapi sebagai bagian dari proses penyelarasan pemahaman.
Lebih jauh, pemimpin perlu membedakan secara tegas antara individu yang belum memahami dengan individu yang tidak memiliki kemauan belajar. Yang pertama membutuhkan bimbingan, kesabaran, dan pendekatan yang tepat, sedangkan yang kedua memerlukan ketegasan dan penegakan standar. Ketidakmampuan membedakan keduanya sering kali melahirkan kepemimpinan yang tidak adil dan kontraproduktif.
Kepemimpinan yang efektif tidak lahir dari keseragaman daya tangkap, tetapi dari kebijaksanaan dalam mengelola perbedaan. Orang yang cepat paham tidak selalu lebih unggul, dan orang yang membutuhkan pengulangan tidak otomatis kurang mampu. Bahkan, tidak jarang ketekunan dalam mengulang justru melahirkan pemahaman yang lebih mendalam dan kokoh dibanding pemahaman instan.
Dengan demikian, kepemimpinan sejati bukan tentang mempercepat semua orang atau menyeragamkan cara berpikir, melainkan yang mampu menyatukan langkah orang-orang yang berbeda ritmenya, tanpa kehilangan arah dan tujuan bersama.
***
*) Oleh : Munawwaroh, Dosen.
*) Tulisan Opini ini sepenuhnya adalah tanggungjawab penulis, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi timesindonesia.co.id
*) Kopi TIMES atau rubik opini di TIMES Indonesia terbuka untuk umum. Panjang naskah maksimal 4.000 karakter atau sekitar 600 kata. Sertakan riwayat hidup singkat beserta Foto diri dan nomor telepon yang bisa dihubungi.
Apa Reaksi Anda?